Language

Perkembangan Ekonomi Indonesia

 


Pertumbuhan ekonomi Indonesia
Nilai Rupiah

Perkembangan Ekonomi Indonesia

Antara Laporan dan Kenyataan

Suatu berita menggembirakan disampaikan BI sebagai otoritas keuangan di Indonesia; bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6,3% nomor dua di dunia setelah negara Cina yang mencapai 7,8%. Dengan nilai pertumbuhan ekonomi yang tinggi diharapkan menggairahkan seluruh sektor ekonomi untuk berkembang. Terutama menarik investor luar negeri agar lebih deras mengalirkan dolar ke Indonesia, yang pada akhirnya menambah pundi-pundi cadangan devisa.
Sementara itu pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak disertai juga dengan nilai inflasi bulan September yang semakin meningkat 4,61% (bandingkan dengan USA: Sept. 2% source http://www.forecasts.org/inflation.htm), bahkan lebih tinggi dari saat lebaran bulan Agustus lalu 4,58%. Padahal tingkat inflasi pada saat ramadhan dan lebaran di mana kebutuhan masyarakat sangat tinggi seharusnya lebih tinggi dari bulan-bulan yang lain.
Satu hal lain yang tidak mendukung pertumbuhan ekonomi yang 6,3% tersebut adalah penurunan nilai ekspor dari US $ 16 milyar (juli 2012) menjadi hanya US $ 14 milyar (Agustus 2012). Bagaimana meningkatkan ekspor bila eksportir kita hanya mendapatkan keuntungan 2% saja. Pertumbuhan Ekonomi yang tinggi tidak banyak berpengaruh bagi masyarakat umum, yang lebih langsung merasakan dampak gejolak tingginya inflasi ekonomi tersebut.
Beberapa produk pertanian bahkan mengalami peningkatan harga yang sangat tinggi mencapai hampir 50% bahkan ada yang lebih. Seperti tabel dibawah ini:

Tabel harga hasil pertanian2012

Produk Pertanian

Agustus-Sept.

Okt.-Nov

Kacang tanah

Rp 14.000

Rp 17.000

Bawang putih impor

Rp 12.000

Rp 25.000

Kacang hijau

Rp 8.000

Rp 10.000

Ketan putih impor

Rp 10.500

Rp 12.500

Dari tabel di atas dapat dilihat peningkatan harga yang luar biasa pada beberapa produk pertanian yang untungnya bukan kebutuhan pokok masyarakat seperti halnya 9 bahan pokok (sembako).
Dalam hal sembako, bila terjadi kenaikan agak tinggi, pastinya akan menimbulkan gejolak dalam masyarakat. Untungnya pemerintah masih bisa mengendalikan, contohnya dalam kasus kelangkaan kedelai.Seharusnya pemerintah menggalakkan penanaman dan penggunaan kedelai lokal bukannya malah memperbesar impor kedelai dari Amerika dan Malaysia. Nilai impor kedelai US$ 424,2 juta menurut laporan BPS, adalah nilai yang besar seandainya saja bukan impor tapi untuk petani kita sendiri. "Berikan petani modal menanam kedelai, sediakan bibit yang disukai konsumen baru kemudian kenakan bea masuk kedelai impor yang tinggi". Menurut saya itu cara yang lebih baik, bukannya malah membebaskan bea impor kedelai.
Apabila dibiarkan berlarut-larut akan menurunkan simpati masyarakat pada pemerintah. Belum lagi kebijakan pemerintah dalam peraturan import sayur dan buah (hortikultura), sedikit tidaknya mempengaruhi perubahan harga di pasaran (dalam kasus harga bawang putih).
Kesimpulannya, pemerintah kurang berpihak pada pertanian nasional yang menjadi sebagian besar mata pencaharian masyarakat Indonesia. Kebiasaan konsumen Indonesia yang terlalu memilih produk impor akan menjadi bumerang bagi pertanian dan industri nasional kita.

Artikel terkait INFO : Harga Hasil Pertanian Terkini
Post sebelumnya 

Add me @ Google+


comments powered by Disqus